Pontianak ,infokalbar.com

Sintang ada tergabung dalam 12 Koperasi petani sawit mandiri, belum satupun dapat sertifikasi ISPO, satu petani dari koperasi rimba harapan malah lompat ke sertifikasi RSPO .

Bupati Sintang dr.Jarot Winarno yang juga menjadi salah satu nara sumber seminar perkebunan Indonesian Palm Oil Smalholders Conference (IPOSC) & Expo yang dilaksanakan oleh media Perkebunan di Hotel Aston Pontianak, Rabu (28/11) mengatakan ” ada beberapa faktor yang di hadapi petani sawit mandiri. Pertama adalah legalitas tanah karena masih SKT, ada juga tanahnya masuk kawasan hutan atau kawasan gambut, ada juga masih sengketa. “Maka pemerintah membuat program reforma agraria melalu redistribusi tanah, TORA dan PTSL, maka reforma agraria mesti prioritas kan daerah yang ada petani sawit mandiri “.

Lanjut jarot , petani nanti mendapatkan sertifikat sesuai dengan tanahnya ,sebelum keluar sertifikat masalah sengketa harus di beresi dulu reformasi agraria di beri prioritas terlebih dahulu ke desa-desa yang ada petani sawit mandiri nya .

” Aspek kelembagaan dimana petani mesti berkelompok, bentuk gapoktan atau koperasi, Di Sintang ada program reformasi koperasi kebun. Ada 94 koperasi kebun plasma yang sudah di latih dan ada 2 dari 12 Koperasi petani sawit mandiri juga di latih, kedepannya akan di latih semua “. Terangnya

” Untuk meningkatkan produktivitas para petani dengan
konsep umum bagaimana mensejahterakan petani sawit mandiri mestilah di keroyokan pemerintah pusat, Provinsi, Kabupaten.
Di pusat ada dana sawit yang besar untuk bantu petani sawit mandiri melalui program bantuan sarana produksi, jalan usaha tani, alat transportasi. Kalau provinsi sudah keluarkan pergub 67 tentang harga sawit, kalau semua bersinergi ikut membantu insya allah hidup para petani lebih makmur”. Pungkasnya.

( yuni )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here